Jumat, 20 April 2012

Orangutan Korban Jerat Berhasil Diselamatkan
Lengan Orangutan korban jerat dusun Pelansi, Desa Kuala satong, Kabupaten Ketapang, Kalimantan barat 

JAKARTA - Seekor orangutan ditemukan terjerat di kawasan dusun Pelansi, Desa Kuala Satong, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat pada Jumat (6/4/2012). Orangutan itu berumur 13 -15 tahun dan berjenis kelamin jantan.

Orangutan ditemukan berdasarkan laporan masyarakat pada yayasan IAR Indonesia lewat telepon. Berdasarkan informasi masyarakat, orangutan yang ditemukan sudah terjebak selama 7 - 10 hari. Semula, masyarakat takut untuk melaporkannya.

Berdasarkan laporan Petrus Kanisius dari Yayasan Palung yang diterima Kompas.com, Kamis(18/4/2012), saat ditemukan orangutan dalam kondisi kritis. Lengan sebelah kanan orangutan itu telah membusuk dan nyaris putus karena terlalu lama terjerat.

Orangutan mengalami infeksi saat terjerat. Infeksi telah menyebar ke bagian tubuh akibat septicemia ditandai demam tinggi. Suhu tubuh orangutan mencapai 40 derajat Celsius. Orangutan kini telah diselamatkan dan diberi infus serta antibiotik.

Sayangnya, orangutan terancam kehilangan satu tangannya. Bagian lengan yang telah membusuk harus diamputasi. Amputasi akan dilakukan setelah kondisi orangutan cuiup stabil.

Data Yayasan IAR Indonesia, Yayasan Palung dan Yayasan Flora Fauna Indonesia (FFI) menyebutkan bahwa pada tahun 2010, ada 12 individu yang diselamatkan, 2011 sebanyak 22 individu sera 2012 hingga kini telah ada empat individu.

Untuk menangani masalah orangutan, ketiga LSM tersebut menyebutkan pentingnya mitigasi konflik, survei habitat sebelum penggunaan lahan, kerjasama antar LSM dan perguruan tinggi dan pemahaman bahwa kandang transit orangutan bukan tempat penampuangan orangutan dari perusahaan.

Orangutan kali ini ditemukan di lokasi yang bersebelahan dengan kawasan kebuh kelapa sawit PT. Kayong Agro Lestari (KAL). Sejak tahun 2006, sudah ada lima individu yang ditemukan di kawasan perusahaan tersebut.

Selain itu, 2 individu orangutan juga ditemukan di kawasan PT. Limpah Sejahtera, dua individu dari PT. Harita (pertambangan), 1 individu dari PT. Andes Sawit Lestari, 1 individu dari PT. Gunajaya Ketapang Sentosa.

Rabu, 18 April 2012

Alih Fungsi Hutan Desak Populasi Gajah Kerdil Borneo
JAKARTA- Organisasi konservasi WWF Indonesia dalam penelitiannya sejak tahun 2007 hingga 2011 mengungkap keberadaan gajah borneo (Elephas maximus borneensis) dengan perkiraan populasi sementara pada kisaran  20-80 individu di wilayah utara Kalimantan Timur yang berbatasan langsung dengan Sabah, Malaysia.
Namun, perambahan hutan untuk perkebunan kelapa sawit yang terus terjadi menyebabkan semakin berkurangnya habitat serta wilayah jelajah gajah Borneo.
Hilangnya habitat hutan wilayah jelajah gajah Borneo, membuat satwa yang kerap dijuluki "Borneo pygmy elephant" atau gajah kerdil Borneo tersebut terdesak, sehingga kemudian memicu adanya konflik antara manusia dan gajah.
Data WWF menunjukkan bahwa dari 2005 hingga 2007 tercatat sekitar 16.000 tanaman sawit milik masyarakat dan perusahaan perkebunan rusak dimakan gajah. Dari hasil pemantauan, tahun 2005 hingga 2009 terdapat 11 desa yang rawan konflik gajah. Semua desa-desa tersebut  berada di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur.
Untuk mengurangi risiko konflik gajah, khususnya di Kecamatan Tulin Onsoi, Kabupaten Nunukan, WWF Indonesia bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim dan Pemerintah Kabupaten Nunukan membantu memfasilitasi pembentukan anggota Satuan Tugas (satgas) mitigasi konfik gajah yang anggotanya terdiri dari masyarakat setempat. Tugas utama Satgas adalah melakukan pencegahan dan penanggulangan konflik gajah.
"WWF Indonesia mengharapkan adanya dukungan operasional serta pendampingan dari pemerintah dan pihak swasta kepada anggota Satgas gajah tersebut," kata Agus Suyitno, Staff Mitigasi Konflik Gajah WWF Indonesia di Nunukan, Rabu (18/4/2012).
"Pemerintah dan semua pihak terkait diharapkan dapat mempertahankan hutan habitat gajah yang tersisa, agar konflik tidak bertambah besar," tambah Agus.
Selain melakukan kerjasama dengan masyarakat, pemerintah dan LSM, WWF juga bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan konsesi yang beroperasi di wilayah habitat gajah untuk pengembangan dan implementasi rencana pengelolaan konservasi gajah, yang terintegrasi dalam pengelolaan konsesi secara berkelanjutan.
Survei WWF-Indonesia tahun 2010 dan 2011 memfokuskan kegiatan di wilayah konsesi hutan alam PT Adimitra Lestari yang dilewati oleh sungai-sungai utama di Kabupaten Nunukan seperti Sungai Agison, Sibuda, Tampilon, Apan, dan merupakan habitat terakhir serta jalur lintasan gajah Borneo di wilayah Indonesia.
Survei bertujuan memantau keberadaan gajah di habitat utamanya, sehingga informasi terbaru mengenai kondisi habitat, populasi dan pergerakannya dapat diketahui.
"Peran serta pihak swasta dalam pengelolaan habitat satwa dilindungi, khususnya di areal konsesi yang dimilikinya, menjadi kunci keberhasilan upaya perlindungan gajah Borneo," ujar Anwar Purwoto, Direktur Program Kehutanan, Spesies dan Air Tawar, WWF-Indonesia.

Kamis, 12 April 2012

Hanya 30 Persen Terumbu Karang dalam Kondisi Baik
Kondisi terumbu karang di sisi timur perairan Pulau Tangah, Kota Pariaman, Sumatera Barat, Minggu (22/1/2012) yang relatif ditutupi sedimen didominasi terumbu karang jenis Montipora sp. dengan bentuk hidup lembaran daun (foliose). Dominannya terumbu karang jenis itu disebabkan kondisi ekstrem perairan yang membuat relatif tidak beragamnya jenis terumbu karang yang bisa hidup. 

MANADO — Kondisi terumbu karang di Indonesia cukup memprihatinkan akibat kerusakan di sejumlah kawasan Indonesia timur dan tengah. Padahal, sebagian terumbu karang di Indonesia yang mencapai 60.000 kilometer persegi berada di kedua wilayah itu.
Hal itu terungkap dalam Workshop Segitiga Terumbu Karang di Manado, Sulawesi Utara, Kamis (12/4/2012). Kegiatan yang dilaksanakan oleh Balai Taman Nasional Bunaken itu diikuti sejumlah pemerhati terumbuh karang dari sejumlah daerah di Indonesia timur.
Ari Rondonuwu dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Sam Ratulangi, yang melansir data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menyebutkan, hanya 30 persen terumbu karang dalam kondisi baik, 37 persen dalam kondisi sedang, dan 33 persen rusak parah.
Pemantauan terumbu karang dilakukan di 77 daerah yang tersebar dari Sabang hingga Kepulauan Raja Ampat. "Data ini mencemaskan mengingat posisi Indonesia sebagai pemimpin Coral Triangle Initiative (CTI) dari enam negara yang memiliki terumbu karang," kata Ari. Enam negara anggota CTI adalah Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Niugini, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste. Sekretariat CTI berada di Manado.
Sebagian besar terumbu karang dunia, sekitar 55 persen, terdapat di Indonesia, Filipina, dan Kepulauan Pasifik; 30 persen di Lautan Hindia dan Laut Merah; 14 persen di Karibia; dan 1  persen di Atlantik Utara.
Meyti Mondong dari Conservation International Indonesia mengungkapkan, kerusakan terumbu karang dilakukan oleh oknum warga pesisir yang menangkap ikan menggunakan bom dan potasium. Hal itu terlihat di banyak daerah di Indonesia timur.
Ia juga menyebut pesisir dan laut di Raja Ampat menghadapi ancaman dari aktivitas daratan yang kurang memperhatikan ekosistem laut. Sejumlah pembangunan jalan lingkar pulau dan pelabuhan tidak cukup menyediakan jalur hijau sebagai penyangga sedimentasi ke laut.
Menurut Meity, diperlukan solusi menahan laju kerusakan terumbu karang dengan meningkatkan pengawasan di laut serta sosialisasi terus-menerus terhadap warga pesisir akan pentingnya terumbu karang dalam kehidupan manusia.
Fungsi terumbu karang adalah sebagai tempat tinggal serta tempat berkembang biak dan mencari makan ribuan jenis ikan, hewan, dan tumbuhan laut. Terumbu karang juga merupakan pelindung ekosistem pantai karena akan menahan dan memecah energi gelombang sehingga mencegah terjadinya abrasi dan kerusakan di sekitarnya.
Diperkirakan setiap terumbu karang yang sehat dapat menghasilkan 25 ton ikan per tahun. Sekitar 300 juta orang di dunia menggantungkan nafkahnya pada terumbu karang.

Rabu, 11 April 2012

Ke Indonesia Demi Owa
 Aurelien Brule

Kecintaan Aurelien Brule kepada owa tumbuh sejak dia berusia 12 tahun. Pria yang akrab disapa Chanee ini tidak hanya mengobservasi dan menulis buku tentang owa, tetapi juga memutuskan untuk bermukim di Indonesia demi melestarikan owa. 
Pria berusia 32 tahun itu mengaku enggan bermukim kembali di negeri asalnya, Perancis, demi melestarikan owa di Indonesia. Sebelumnya, selama bertahun-tahun sejak berusia 12 tahun, ia kerap mengunjungi kebun binatang di kawasan tempat tinggalnya, Distrik Var, Perancis.
Waktu libur sekolah digunakan Chanee untuk menghimpun berbagai informasi dan mencatat pengamatannya terhadap hewan primata, termasuk owa. Semua hal itu kemudian dibuatnya menjadi buku berjudul Le Gibbon a Mains Blanches (Owa Tangan Putih).
Penerbit pun terkagum-kagum ketika Chanee yang saat itu remaja berusia 16 tahun mengajukan naskah buku tersebut. Catatan itu dikumpulkannya dari observasi di kebun binatang yang dia lakukan sekitar tiga tahun.
Ia bercerita, jarak kebun binatang dengan rumahnya sekitar 30 kilometer. Begitu asyiknya, Chanee bisa menghabiskan delapan jam mengamati aneka satwa sejak kebun binatang itu buka hingga tutup pukul 17.00.
Di kebun binatang itulah kecintaan Chanee terhadap owa mulai tumbuh. Awalnya ia senang mengamati semua primata. Chanee mengenang, ia pertama kali melihat owa secara langsung pada Mei 1992.
”Kenapa senang owa, saya pun tak tahu. Perasaan itu tumbuh dengan sendiri. Tetapi, saya memang terpana saat melihat langsung owa,” ujarnya. Namun, antusiasmenya itu perlahan berubah menjadi rasa iba.
Menurut dia, owa sering kali harus tinggal sendiri. Padahal, owa seharusnya punya pasangan. Oleh karena itulah, hasratnya untuk melihat langsung owa di hutan begitu besar.
Sampai suatu hari aktris Muriel Robin membaca artikel mengenai buku karya Chanee. Robin terkesan dan bersedia menyokong dana agar Chanee bisa bertolak ke Thailand untuk melihat langsung owa di habitat asli. Di Thailand dia mendapatkan nama Chanee, yang artinya owa dalam bahasa Thailand.
”Saya ke Thailand karena urusannya paling gampang. Senang sekali melihat owa hidup di alam. Tiga bulan saya di sana,” ujarnya.
Chanee kemudian mengetahui bahwa jenis owa paling banyak terdapat di Indonesia. Di dunia ada 17 jenis owa dan Indonesia punya tujuh jenis di antaranya.
”Semua jenis owa di dunia terancam punah. Saya lalu memutuskan pergi ke Indonesia,” ujarnya.
Dalam perjalanan ke Indonesia, Chanee membaca berita tentang kebakaran hutan di Indonesia. Niatnya beraktivitas di Indonesia pun kian besar. Ia tiba pada Mei 1998 saat kerusuhan dan isu pergantian pemerintahan menghebat. Namun, tekadnya melestarikan owa menaklukkan kerisauan itu.
Kalaweit
Chanee lalu mendirikan lembaga untuk melestarikan owa. Ia mengajukan izin membentuk yayasan bernama Kalaweit yang berbasis di Kalimantan Tengah. Kalaweit artinya owa dalam bahasa Dayak Ngaju.
Proses mendirikan yayasan memerlukan waktu sekitar sembilan bulan. Pegawai Kementerian Kehutanan pun terheran-heran melihat anak muda yang tak lancar berbahasa Indonesia ini mengurus izin tersebut.
”Bahasa Inggris saja saya belum fasih. Apalagi waktu itu sedang pergantian presiden. Jadi, proses perizinan cukup sulit,” katanya.
Chanee pergi ke berbagai tempat dengan transportasi umum karena keterbatasan dana. Setiap dua bulan dia juga harus bolak-balik ke Singapura untuk memperpanjang visa. Kegigihan itu membuahkan hasil.
”Mungkin karena pegawai Kementerian Kehutanan bosan melihat saya hampir setiap hari, makanya izin diberikan, ha-ha-ha,” ujarnya.
Kini Yayasan Kalaweit mempekerjakan 52 karyawan lokal. Selain owa, mereka juga tak menolak satwa lain, seperti kera, piton, kukang, buaya, bekantan, dan beruang madu.
Kalaweit melakukan tiga aktivitas. Pertama, satwa yang dipelihara warga diusahakan kembali ke alam. Kedua, pelestarian habitat owa dengan mendirikan tempat perlindungan owa seluas 8 hektar di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah.
”Kami juga membantu apa pun yang bisa dikerjakan untuk menjaga Cagar Alam Pararawen seluas 5.300 hektar di Barito Utara,” katanya.
Ketiga, petugas Kalaweit berusaha mendekati pemilik satwa untuk melepaskan peliharaannya. Petugas mengimbau agar satwa liar tak ditangkap. Jika sedang berpatroli dan menemukan jerat, mereka menghancurkannya.
Selain itu, Kalaweit yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Palangkaraya sejak tahun 2007 juga berupaya melestarikan kawasan konservasi Hampapak seluas 700 hektar.
Tempat perlindungan owa juga dibuat di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, sembilan tahun lalu. Ini membuat program Kalaweit menjadi pelestarian owa terbesar di dunia. Total 250 owa hidup di tempat perlindungan di Kalimantan Tengah dan Sumatera Barat.
Radio dan internet
Tahun 2003 Chanee melakukan sosialisasi dengan mendirikan Radio Kalaweit berfrekuensi FM 99,1 di Palangkaraya. Ia juga berbagi informasi mengenai owa dan kegiatan yayasan lewat situs internet beralamat www.kalaweit.org.
”Siaran radio kami tak melulu soal owa karena tak ada lagu bisa membuat radio ini tidak ada pendengarnya. Siaran kami mengutamakan hiburan, dengan menyisipkan pesan menyayangi satwa,” katanya.
Pengaruh radio ternyata besar. Sebagian besar satwa yang diserahkan kepada Yayasan Kalaweit di Jalan Pinus, Palangkaraya, berasal dari pendengar.
Chanee mengakui tugasnya tak ringan. Aktivitasnya membuat waktu yang tersisa untuk keluarga terbatas. Apalagi aktivitas dan siaran Chanee demi mempertahankan kelestarian alam menimbulkan ketidaksukaan beberapa pihak yang merasa terganggu.
”Ancaman saya terima lewat surat, telepon, sampai bertemu pelaku. Pernah ada orang datang ke kantor dengan membawa pisau,” ujarnya.
Namun, iming-iming imbalan agar kegiatan pelestarian itu dihentikan hingga ancaman pembunuhan tak menyurutkan niat Chanee melestarikan owa.
Keinginan lainnya yang belum terpenuhi adalah menjadi warga negara Indonesia. ”Saya juga ingin menjadi warga Indonesia. Sudah empat tahun saya mengurusnya, tetapi belum berhasil, cukup susah,” katanya.

Jumat, 30 Maret 2012

Murah Atau Mahal, Energi Harus Dihemat
ILUSTRASI
JAKARTA - Kampanye Earth Hour di Indonesia akan memuncak Sabtu (31/3/2012). Istimewanya, perayaan kali ini berbarengan dengan rencana kenaikan harga BBM dan demonstrasi penolakannya.

Nyoman Iswarayoga, Direktur Program Energi dan Iklim WWF Indonesia, mengatakan bahwa dua momen tersebut harus menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk berpikir tentang penghematan energi.

"Murah ataupun mahal, energi tetap harus dihemat. Efisiensi energi itu harga mati," tegasnya saat dihubungi Kompas.com, Jumat (30/3/2012).

Menurut Nyoman, penghematan energi tidak berkaitan dengan harga. Jika energi murah, tak berarti masyarakt bisa boros. Penghematan energi perlu dilakukan sebab sumber dayanya memang terbatas.

Dalam upaya penghematan energi, peran individu dan rumah tangga sangat penting, selain sektor industri. Karenanya, setelah perayaan Earth Hour, individu berperan dalam melanjutkan sebagai gaya hidup.

Earth Hour di Indonesia tahun ini dirayakan untuk keempat kalinya. Sejumlah 26 kota terlibat perayaan ini. Masyarakat diminta mematikan lampu dan alat listrik yang tak diperlukan pukul 20.30-21.30 WIB.

Bentuk penghematan energi yang bisa dijadikan gaya hidup individu antara lain menggunakan alat listrik seperlunya, memakai angkutan umum dan bersepeda ataupun berajalan jika jarak dekat.

Pemerintah sendiri punya PR terkait transportasi untuk mendukung hemat energi. "Pemerintah harus mewujudkan transportasi publik yang aman dan nyaman," ungkap Nyoman.

Selasa, 27 Maret 2012

Inilah Area Terbesar untuk Pelepasliaran Orangutan
Bayi orang utan Kalimantan (pongo pygmaeus pygmaeus) yang baru berumur 1,5 bulan berada dalam gendongan induknya, Dina (14 tahun) di dalam kandang penangakaran Taman Safari Indonesia (TSI) II Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Senin (13/12/2010). Kelahiran bayi satwa endemik asli Indonesia berjenis kelamin betina tersebut menambah populasi orang utan di TSI menjadi 24 ekor.

JAKARTA PT Kayung Agro Lestari (KAL), anak usaha PT Austindo Nusantara Jaya Agri (ANJ Agri), akan menyerahkan lahannya sekitar 3.400 hektar di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar), untuk dijadikan kawasan konservasi.
Kawasan konservasi ini direncanakan untuk menampung pelepasliaran 40 orangutan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalbar (BKSDA Kalbar), yang sejauh ini merupakan area terbesar bagi pelepasliaran orangutan di Indonesia.
Dalam siaran pers yang diterima, Selasa (27/3) di Jakarta, Direktur Public Affairs ANJ Agri Sucipto mengatakan, berdasarkan pemantauan BKSDA Kalbar dan studi yang dilakukan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada pada akhir 2011, pada wilayah hutan produksi konversi (HPK) seluas 17.987 hektar, yang telah dicadangkan untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit PT KAL di Kabupaten Ketapang, Kalbar, terdapat wilayah yang bisa dijadikan hutan bernilai konservasi tinggi (high conservation value atau HCV).
Menurut penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM), distribusi orangutan merata di seluruh kawasan seluas lebih dari 3.400 hektar itu, yaitu rata-rata tiga individu per kilometer. Selain orangutan, berdasarkan hasil penelitian dari UGM, di area PT KAL yang akan menjadi kawasan konservasi tersebut terdapat lebih kurang 30 jenis satwa liar, termasuk beruang madu, rusa sambar, kucing kuwuk, lutung dahi putih, dan berbagai spesies burung.

Kamis, 22 Maret 2012

Tomcat Tidak Menyerang Manusia
 Serangga Tomcat yang memproduksi racun paederin, menyebabkan dermatitis.
BOGOR, — Munculnya kumbang tomcat di perumahan warga Surabaya karena habitatnya yang mulai terusik akibat pembangunan.
"Saya belum mengetahui pasti posisi lokasi apartemen tersebut apakah berada di sekitar persawahan atau bukan. Tapi yang pasti, kenapa banyak terdapat di sana bisa jadi wilayah itu merupakan habitatnya," kata pakar serangga dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Aunu Rauf MSc, di Bogor, Rabu (21/3/2012).
Aunu mengatakan, perlu dilakukan pengecekan langsung lokasi perumahan warga yang mengalami serangan tomcat tersebut untuk memastikan apakah ledakan populasi dipicu oleh keberadaan permukiman di kawasan habitat hewan tersebut.
Menurut Aunu, ada beberapa kemungkinan yang bisa menjelaskan terjadinya ledakan (outbreak) kumbang tomcat ini, di antaranya terjadi peningkatan populasi kumbang tomcat menjelang berakhirnya musim hujan (sebelumnya masih dalam stadia larva dan pupa). Pada saat yang bersamaan terjadi kegiatan panen sehingga kumbang tomcat beterbangan dan bergerak menuju ke tempat datangnya sumber cahaya di permukiman.
"Pada malam hari kumbang Paederus fuscipes aktif terbang dan tertarik pada cahaya lampu. Inilah sebetulnya yang sekarang terjadi di kompleks apartemen di Surabaya," katanya.
Ia menjelaskan, binatang yang disebut tomcat ini sebetulnya adalah hewan sejenis kumbang dengan nama ilmiah Paederus fuscipes. Kumbang Paederus fuscipes berkembang biak di dalam tanah di tempat-tempat yang lembab, seperti di galengan sawah, tepi sungai, daerah berawa, dan hutan.
Telurnya diletakkan di dalam tanah, begitu pula larva dan pupanya hidup dalam tanah. Setelah dewasa barulah serangga ini keluar dari dalam tanah dan hidup pada tajuk tanaman.
Siklus hidup kumbang dari sejak telur diletakkan hingga menjadi kumbang dewasa sekitar 18 hari, dengan perincian stadium telur 4 hari, larva 9 hari, dan pupa 5 hari. Kumbang dapat hidup hingga 3 bulan. Seekor kumbang betina dapat meletakkan telur sebanyak 100 butir telur.
"Bisa jadi permukiman dibangun di wilayah tempat perkembangbiakan kumbang tomcat, misalnya di dekat persawahan atau di pinggiran dekat hutan yang lembab atau tempat berawa. Pada kondisi ini kumbang pada malam hari akan berdatangan ke perumahan karena tertarik cahaya lampu," katanya.
Lebih lanjut, Aunu mengatakan, masyarakat tidak perlu terlalu khawatir dengan ledakan populasi tomcat ini karena kumbang tomcat tidak menggigit atau menyengat.
Tetapi, kumbang tomcat kalau terganggu atau secara tidak sengaja terpijit akan mengeluarkan cairan yang bila kena kulit akan menyebabkan gejala memerah dan melepuh seperti terbakar (dermatitis). Gejala ini muncul akibat cairan tubuh kumbang tadi mengandung zat yang disebut pederin yang bersifat racun.
Aunu mengatakan, ada yang menyebutkan bahwa pederin ini 15 kali lebih beracun daripada bisa kobra. Belakangan ini diketahui bahwa produksi pederin dalam tubuh kumbang tergantung pada keberadaan bakteri Pseudomonas sp. yang bersimbiosis dalam tubuh kumbang betina.
Pederin bersirkulasi dalam darah kumbang sehingga dapat terbawa sampai ke keturunannya (telur, larva, pupa, dan kumbang). Namun demikian, kumbang betina yang mengandung bakteri akan menghasilkan pederin yang lebih banyak dibandingkan kumbang yang dalam tubuhnya tidak ada bakteri simbion.
Aunu mengatakan, kumbang ini jangan dimusnahkan karena bermanfaat bagi petani. Penyemprotan di rumah juga tidak perlu dilakukan karena lebih berisiko terhadap kesehatan penghuninya.
Untuk menghindari serangannya, dengan cara halaulah kumbang ini agar menjauh dari rumah dengan mematikan lampu, atau memungutnya secara hati-hati dengan kantong kertas dan lepaskan ke habitatnya (sawah atau tempat lembab lainnya).
Masyarakat juga tidak perlu khawatir dengan kejadian tersebut karena outbreak kumbang tomcat seperti terjadi di Surabaya pernah pula dilaporkan terjadi di negara lain, seperti di Okinawa-Jepang (1966), Iran (2001), Sri Lanka (2002), Pulau Pinang Malaysia (2004 dan 2007), India Selatan (2007), dan Irak (2008).
"Memang sesekali kumbang datang ke permukiman karena tertarik cahaya lampu, dan mengganggu kenyamanan penghuninya. Namun demikian, jangan sampai 'pengabdian setiap hari' kepada petani oleh kumbang ini terhapus oleh perilakunya datang ke permukiman yang hanya sesekali terjadi," ujarnya.