Selasa, 14 Februari 2012

Valentine, Kasih Sayang Bagi Orangutan
 Seperti inilah sang induk orangutan berusaha melindungi anaknya ketika mereka akan dibunuh pemburu di Kalimantan.
JAKARTA - Hari Valentine yang diperingati setiap 14 Februari atau yang jatuh hari ini biasa digunakan manusia sebagai momen untuk berbagi kasih sayang. Namun, mendekati momen Valentine tahun ini, orangutan yang berbagi 97 persen materi genetik dengan manusia justru tersiksa. Padahal primata-primata inilah yang justru butuh kasih sayang.

"Tanggal 7 Februari lalu, kita menemukan 3 ekor bayi orangutan yang kondisinya sangat mengenaskan. Mereka berumur 1,5 - 3 tahun. Sudah terbukti ada penganiayaan tapi untung saja mereka tidak mati," kata Daniek Hendarto dari Center dor Orangutan Protection (COP).

Dihubungi Selasa (14/2/2012), Daniek mengungkapkan bahwa salah satu dari orangutan tersebut mengalami luka serius. "Ada luka di telapak tangan yang menganga, bukti kalau itu tertebas pedang. Salah satu mata orangutan bahkan terancam buta karena tersiram cairan panas."

Orangutan tersebut ditemukan di salah satu hutan di kawasan Kalimantan Timur. Saat ini, tim COP tengah menelusuri asal muasal 3 ekor orangutan yang ditemukan seminggu lalu tersebut untuk ditindaklanjuti.

Masih berlanjutnya kasus penganiayaan terhadap orangutan, membuat COP mengadakan aksi di Yogyakarta. Tim COP yang terlibat mengenakan kostum orangutan, membentangkan spanduk bertuliskan "Love for Else Species" dan membagikan pisang.

"Kami mengajak masyarakat untuk memahami bahwa cinta bukan hanya terbatas pada spesies manusia saja, tetapi juga bagi spesies lain seperti orangutan. Orangutan saat ini masih terancam oleh pembabatan hutan untuk kelapa sawit," kata Daniek.

Jumat, 03 Februari 2012

Momen Mengharukan Saat Orangutan Lepas Liar
 Seperti inilah sang induk orangutan berusaha melindungi anaknya ketika mereka akan dibunuh pemburu di Kalimantan.
JAKARTA — Tim Gabungan Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI), Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) berhasil melepasliarkan dua ekor orangutan pada 25 Januari 2012.

Dua orangutan yang dilepasliarkan adalah induk dan anak yang diberi nama Suci dan Sri. Keduanya adalah orangutan yang ditemukan di kawasan perkebunan PT Balacak Himba Bahari (BHB) pada tanggal 22 Januari 2012.

Ada momen mengharukan saat tim akhirnya berhasil melepasliarkan Suci dan Sri. Ekspresi kedua orangutan itu saat lepas liar jauh berbeda dengan ekspresinya saat ditemukan di dekat area semai perkebunan.

Dr Aldrainto Priadjati, Deputi Direktur RHOI, mengatakan, saat ditemukan, orangutan tampak kelelahan. Orangutan memeluk anaknya. Sementara di sekelilingnya, orang-orang membawa parang dan tali.

Ekspresi berbeda ditunjukkan saat lepas liar. "Begitu mencium bau hutan, orangutan yang kita bius lalu tersadar. Induk dan anaknya spontan langsung memanjat pohon," ungkap Aldrianto dalam konferensi pers, Kamis (2/2/2012).

"Kita sampai khawatir karena orangutan belum sadar penuh. Akhirnya kita tunggu karena kita khawatir orangutan akan jatuh," tambah Aldrianto.

Aldrianto mengungkapkan, momen tersebut sangat mengharukan. Orangutan seperti kembali ke rumahnya. Video di bawah menggambarkan momen tersebut.

Suci dan Sri dilepasliarkan di hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur. Selain keduanya, masih banyak orangutan yang menunggu untuk dilepasliarkan. Di pusat rehabilitasi, ada 850 ekor orangutan yang harus dikembalikan ke alam.

Pelepasliaran orangutan menyisakan masalah. Lahan terbatas dan butuh biaya miliaran untuk menyewa hutan serta mengirim orangutan ke hutan. Butuh keberpihakan banyak pihak, termasuk pemerintah dan kalangan bisnis, untuk mengatasinya.

Kamis, 02 Februari 2012

Dua Orangutan Selamat dari Maut
Seperti inilah sang induk orangutan berusaha melindungi anaknya ketika mereka akan dibunuh pemburu di Kalimantan. 
JAKARTA - Tim rescue orangutan dari Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI), Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur berhasil menyelamatkan dua ekor orangutan dari maut.
Dua ekor orangutan tersebut adalah sepasang induk dan anak. Keduanya dijumpai di kawasan perkebunan sawit PT Bakacak Himba Bahari (BHB) pada tanggal 22 Januari 2012 saat tim melakukan program penyelamatan dan pelepasliaran.
"Saat ditemukan, kami melihat orangutan itu sedang memeluk anaknya. Lokasi penemuan ada di dekat persemaian perkebunan kelapa sawit," kata Dr Aldrianto Priadjati, Deputi Direktur RHOI dalam konferensi pers, Kamis (2/2/2012).
Aldrianto mengatakan, orangutan dan anaknya tampak mengenaskan. "Induk tampak kelelahan karena sudah dikejar-kejar semalaman orang yang bukan berasal dari wilayah setempat," tambah Aldrianto yang juga ketua tim penyelamatan dan pelepasliaran.
Keberhasilan penyelamatan adalah sebuah keberuntungan. Saat ditemukan, orangutan tengah dikepung manusia yang membawa tali dan parang. Jika tim penyelamat terlambat 10 menit saja, orangutan mungkin akan menjadi bangkai.
"Setelah menemukan, kami langsung membius induk. Kemudian kita bawa dan kita pasangi chip. Gunanya agar kita bisa melakukan pemantauan pada orangutan tersebut setelah dilepasliarkan," papar Aldrianto.
Orangutan yang berhasil diselamatkan kemudian dilepasliarkan ke hutan Kejeh Sewen yang menjadi lokasi pelepasliaran. Hutan ini berlokasi di Kalimantan Timur dan merupakan areal yang telah dipersiapakan untuk pelepasliaran orangutan.
Aldrianto menceritakan, butuh waktu 4 hari untuk melepasliarkan orangutan ini. Biaya yang diperlukan pun tak sedikit sebab tim harus menyewa mobil dan memenuhi kebutuhan lain agar bisa sampai ke lokasi pelepasliaran.
Pelepasliaran orangutan menyisakan momen mengharukan. "Begitu mencium bau hutan, orangutan yang kita bius lalu tersadar. Induk dan anaknya spontan langsung memajat pohon. Ini sangat mengharukan," tutur Aldrianto.
Aldrianto mengatakan, penyelamatan dan pelepasliaran ini hanya salah satu bagian dari upaya BODF dan RHOI. April mendatang, tim beranggotakan 6 orang akan kembali ke hutan untuk kembali melakukan program penyelamatan dan pelepasliaran.
Pelepasliaran bukannya tak menyisakan masalah. Belum ada jaminan pasti bahwa pelepasliaran akan membuat orangutan aman. Hutan terfragmentasi dan terus dieksploitasi. Orangutan bisa saja kelaparan atau dibunuh.
Butuh upaya serius untuk menjaga kelestarian orangutan. Bungaran Saragih dari BOSF mengusulkan adanya Corporate Biodiversity Responsibility sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan. Kewajiban ini harus terpisah dari Corporate Social Responsibility.
Orangutan yang dilepasliarkan diberi nama Suci (induk) dan Sri (anak), diambil dari nama pakar primata Indonesia Dr Sri Suci Utami. Induk orangutan berusia sekitar 25 tahun sementara anak berusia 6 tahun.

Rabu, 01 Februari 2012

Badak Sumatera Tersisa 200 Ekor di Dunia
 Badak sumatera
SUKADANA — Hewan khas badak sumatera (Dicherorhinus sumatrensis) kini sangat terancam punah. Populasinya di seluruh dunia kini hanya tersisa 200 ekor.
Dari jumlah itu, sebagian dirawat intensif di sejumlah kebun binatang dunia, seperti di Amerika Serikat dan Malaysia.
"Di AS ada tiga ekor yang berada di kebun-kebun binatang, lalu ada tiga ekor lainnya di Sabah, Malaysia. Sisanya di alam liar, tapi jumlahnya terus menurun," tukas Dedi Chandra, Manajer Suaka Rhino Sumatera (SRS) Yayasan Badak Indonesia, di Taman Nasional Way Kambas, Rabu (1/2/2012).
Di TN Way Kambas, jumlah badak sumatera kini tidak hanya sekitar 30 ekor. Mereka pun sangat jarang ditemui karena hewan pemakan tumbuhan browser ini terkenal sangat pemalu dan hidup soliter.
Menurut Dedi, perlu upaya luar biasa untuk melestarikan badak sumatera. Salah satunya lewat perkembangbiakan di tempat penangkaran semi-insitu seperti di SRS Way Kambas.
Jika tidak ada upaya khusus, bukan tidak mungkin hewan unik ini punah, seperti halnya saudara sepupu mereka, yaitu badak sumatera utara (Dicherorhinus sumatrensis lasiotis).